"KASIH TAK SAMPAI"
Pernahkah hidupmu terasa sepi? Dimana kau merasa sendirian
dan tak ada seorang pun yang bisa mengerti dirimu? Itu lah aku, aku adalah Via
anak pertama dari empat bersaudara. Aku terbiasa hidup mandiri sejak memasuki
sekolah menengah pertama hingga memasuki perguruan tinggi karena sejak saat itu
aku tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orang tuaku dan ketiga adik-adikku
karena aku menempuh pendidikan yang jauh dari kampung halamanku dan saat itu
aku terbiasa hidup sendirian sesekali bertemu dan berkumpul dengan keluarga
hanya pada saat aku libur.
Disinilah awal dimana aku harus mengalami kesepian tanpa
didampingi keluarga, memasuki dunia baru yang banyak mengajarkan aku baik dan
buruknya nilai-nilai kehidupan. Sejujurnya aku kesepian bukan berarti aku tidak
memiliki teman untuk berbagi atau menemani ku,! Hanya saja aku memang dikenal
cukup pendiam untuk kalangan orang yang mungkin baru mengenalku, tapi setelah
mengenalku lebih jauh dan dekat dengan ku, baru mereka tau betapa cerewetnya
aku. Ya…akan tetapi aku termasuk orang yang tidak banyak bicara dan tertutup,
aku terlalu banyak menutupi sesuatu dari teman-temanku, bukan karena aku tidak
mempercayai mereka sehingga aku menyembunyikan beberapa hal itu dari mereka
hanya saja aku tidak sanggup untuk menceritakannya karena hal itu adalah hal
terberat yang harus aku jalani.
Aku masih bersyukur walaupun aku jauh dari keluargaku tetapi
kasih sayang mereka tidak pernah berkurang untukku mereka tetap mengingatku,
sesekali menghubungiku dan bertanya akan keadaanku.
Aku juga bersyukur karena ada sahabat-sahabatku yang
senantiasa selalu menemaniku, selalu berbagi denganku, dan selalu ada disaat
aku susah maupun senang. Seperti disaat aku kehilangan orang yang aku sayangi,
dia adalah Yogi. Dia adalah orang yang pernah menjadi seseorang yang sangat
berharga untukku. Dia telah meninggalkanku demi wanita lain yang memang ku
anggap lebih baik dariku dan lebih sempurna dariku. Disaat hal tersulit yang
harus aku jalani untuk melupakan orang yang aku sayangi, aku selalu ditemani
sahabat-sahabatku yang tetap selalu memberi support untuk ku dan selalu
menasehatiku agar aku selalu kuat untuk menjalani hidupku.
Aku bisa tegar menjalani semuanya dan aku telah iklas
melepasnya bersama wanita lain, hingga pada beberapa bulan kemudian aku mampu
membuka hati lagi untuk pria lain. Dia adalah Adit kakak tingkat ku dimana aku
kuliah disalah satu universitas swasta di Mataram. Yaaaacch….awalnya aku
sebenarnya sangat membencinya karena tingkahnya yang jutek, sok cool, dan
sangat sombong. Kenapa pada akhinya aku bisa menyukainya? Itu mungkin
pertanyaan yang memang sulit aku jawab,hehe…
Awalnya aku memang sangat membencinya tapi pada saat
memasuki semester ganjil, salah satu mata kuliah kita sama dengan mata
kuliahnya mereka. sehingga kelas kita digabung. Jadi setiap kali masuk mata
kuliah tersebut secara otomatis aku harus berbagi kelas dengannya dan bertemu
dengannya. Ternyata dia termasuk mahasiswa yang cukup cerdas walaupun sedikit
agak bawel dan cerewet, dia orang yang sangat banyak omong. Entah apapun itu,
kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, sungguh tidak bisa diam. Kadang
aku sangat muak mendengar ocehannya ketika sedang berdebat dengan temannya
ataupun bertanya pada Dosen. Ingin rasanya aku sumbat mulutnya dengan sepatuku
agar dia bisa diam dan lebih tenang… tapi sayangnya itu tidak mungkin, karena
Aku tidak ingin mencari masalah. Pokoknya dia adalah pria yang super ribut yang
pernah aku temui.
Pada akhirnya suatu hari dosen memberi tugas kelompok untuk
kita, aku dan teman-temanku berharap sih… kita bisa memilih anggota kelompok
kita sendiri. Biar bisa ngumpul sama-sama gitu…!!! Hihihihi (meski sedikit
curang siiich…) tapi sayangnya kelompok dan anggotanya dipilih sama
dosennya…dan celakanya dalam satu kelompok semester atas dan semester bawah
harus digabung…!!! Biar bisa membina keakraban gitu katanya. Huuuuft…udah bisa
tebak nggak…hari itu adalah hari yang benar-benar menguji tensi ku..!!!. Bisa
dibayangin nggak aku satu kelompok sama orang yang paling aku benci? Ya…itulah
kenyataannya, aku satu kelompok bersama orang yang super ribut itu si Adit.
MENYEBALKAN……..!!!!!!
Kekesalanku tidak hanya sampe disitu, ternyata teman-teman
satu kelompok meminta dia untuk menjadi ketua kelompok, alasanya karena dia
jago ngomong. Bukannya aku tidak terima dia yang jadi ketuanya karena aku
yang pengen jadi ketuanya, tapi setidaknya yang lain ke’ yang lebih waras dari
dia. Udah gitu dia sok-sok ngatur lagi, sembarangan bagi-bagi tugas…giliran aku
dapat yang susah. Bener-bener ngeselin banget tu cowo’. Huuuft…!!!!
“Besok malam jam 07:30 harus udah ngumpul dirumahku kalo gak
datang namanya gak dicantumin dalam tugas kelompok…!!!” kata si super nyebelin
itu pas waktu ketemu aku dikantin. Kenapa harus dirumahnya. Kenapa gak dirumah
yang agak deketan dikit gitu dari rumahku. “Dasar cowo’ nyebeliiiiin…!!!!
Kayanya seneng banget bikin aku sengsara. Dari rumahku kerumahnya kan jaaauuh.
Mana harus datang lagi nggak boleh nggak, nyebelin banget…!!!”.
Tepat malam minggu aku dan teman-teman satu kelompok ku telah
berkumpul dirumah Adit. Entah kenapa sesampainya aku disana, suasana terasa
sangat berbeda dia yang selalu terlihat sok cool, jutek, sombong, cerewet dan
super nyebelin menjadi ramah dan sopan (ya walaupun dengan tidak ikhlas
mengatakannya memang harus aku akui hal itu). Disana dia tinggal hanya berdua
bersama mamanya. Pernah dengar dari teman-teman kedua orang tuanya sudah lama
bercerai dikarenakan ayahnya mempunyai istri simpanan. Disana kita disambut
dengan ramah oleh mamanya, mamanya sangat baik dan perhatian.
Setelah semua tugas kita telah diselesaikan, aku izin pulang
dengan mamanya namun mamanya malah menarikku duduk kembali dan mengajakku
bercerita. Mamanya banyak cerita tentang Adit. kata mamanya, dulu Adit adalah
anak yang sangat sayang terhadap orang tuanya, sopan, dan penurut. Tapi setelah
kedua orang tuanya bercerai Adit banyak berubah, dia menjadi orang yang sangat
dingin dan pendiam kalau dirumah (gak tau aja mamanya kalau dia dikampus
seperti apa, udah kaya kompor meleduk…meledak sana meledak sini.!! hehe).
Setelah lama bercerita akupun akhirnya izin pulang karena
telah larut malam, tapi mamanya menyuruh Adit untuk mengantarku pulang kerumah.
Awalnya aku tidak mau, namun mamanya tetap memaksaku dan dengan terpaksa aku
mau diantar pulang sama dia.
Selama diperjalanan pulang aku tak banyak bicara dan anehnya
Adit pun tidak sepeti biasa selalu meledakkan bomnya kesana kemari, biasanya
dia suaranya kedengaran dimana-mana tapi untuk malam ini dia terlihat berbeda.
Tetap membisu dalam beberapa saat dan akhirnya suaranya
terdengar “Yang mana rumahmu?”, aku tersentak kaget dan menjawab “lurus aja,
habis itu belok kiri…!”.
Sampai depan rumah aku masih merasa kaku berhadapan
dengannya namun aku tetap berusaha santai dan berkata “terima kasih udah nganterin..!”
dengan senyuman dia menjawab “oke sama2, aku langsung pulang ya. Met malam…!!!
(met malam..??? rasanya aneh terdengar ditelingaku, dan senyumannya…baru kali
ini ku lihat senyuman yang penuh kedamaian). “Huuuusssssst….mikirin apa sich
aku ini…?!” Hati ku bergumam.
Sejak kejadian itu penilaian ku terhadapnya telah berubah,
dan setelah banyak mendengar cerita dari mamanya aku bisa menyimpulkan bahwa
Adit sebenarnya adalah anak yang baik, hanya saja dia masih belum bisa menerima
perceraian kedua orang tuanya dan merasa kurang perhatian dari ayahnya makanya
dia selalu mencari perhatian dari orang-orang disekelilingnya dengan cara
ocehan-ocehannya yang tidak bermutu menurutku.
Yaaa…sejak saat itu aku mulai memperhatikannya, semakin
dilihat ternyata dia lucu juga…!!! Aneh memang tapi itulah kenyataannya. Bagiku
dia sangat berbeda, seburuk apapun tingkah lakunya tapi dia sangat sayang
terhadap mamanya. dan sejak saat itu juga aku sering diundang mamanya
kerumahnya pas waktu weekend, karena mamanya juga gak ada kegiatan dikantor
karena libur. Semakin mendengar cerita mamanya tentang Adit aku semakin
menyukai Adit. Entahlah….aku juga tak tau, tapi semua itu ku sembunyikan dari
Adit. Tetapi meskipun aku sering kerumahnya, aku masih belum begitu akrab dan
dekat dengan Adit, jika bertemu dirumahnya sesekali hanya tersenyum dan
mengucapkan kata sapaan “Hai…!”.
Dua bulan telah berlalu. Aku dan dia kini telah dekat, dekat
masih dalam tahap pertemanan. Itupun aku bisa dekat dengannya karena mamanya.
Mamanya selalu menyuruh aku dan Adit menemaninya belanja. Entahlah…aku tidak
tau mengapa mamanya begitu baik terhadapku seolah-olah ingin menjodohkan aku
dengan Adit (bukan bermaksud kePeDean sih…tapi mamanya pernah cerita sendiri
denganku, kalo aku cocok untuk pendamping Adit).
Waktu demi waktu pun berlalu aku hanya bisa memendam
perasaanku dalam-dalam terhadap Adit seolah-olah aku tidak ingin dia tahu akan
tentang perasaanku terhadapnya. Akupun juga tidak pernah ingin tau bagaimana
perasaan Adit terhadapku.
Pada suatu ketika aku merasakan sakit yang begitu hebatnya,
untuk kesekian kalinya aku merasakan sakit ini. Bukan sakit karena cinta tapi
sakit atas penyakit yang ku derita selama ini, ya…aku memang bukan lah wanita
yang sehat dan sempurna seperti wanita yang lainnya, aku di vonis penyakit
jantung. Udah 5 tahun lebih aku mengidap penyakit ini, tapi tidak ada
seorangpun keluarga atau teman-temanku yang tau termasuk Adit.
Aku sengaja menyembunyikan ini semua karena aku tidak mau
orang-orang yang dekat denganku memandang ku dengan iba dan penuh kasihan. Aku
ingin dilihat orang yang kuat dan sehat. Namun kali ini aku terpaksa kembali
kerumah sakit seorang diri tanpa bantuan siapa pun dan setelah sesampainya
disana akupun disarankan oleh dokter untuk diterapi karena penyakit jantungku
sudah parah dan takut tidak tertolong lagi jika terlambat ditangani. Aku tidak
bisa melakukan hal ini aku tidak ingin kelurgaku tau tetang penyakit yang ku
derita selama ini.
Dalam dilema, aku terus memikirkan hal ini. Dan akhirnya aku
hanya meminta resep obat untuk menahan rasa sakit sementara.
Ujian akhir semester telah dilaksanakan, namun sayang dengan
rasa penyesalan aku tidak bisa mengikuti ujian semester tersebut karena saat
ini aku sedang terbaring tak berdaya dirumah sakit. Saat inipun tak seorang pun
sahabat yang tau keadaanku kecuali Dewik sepupuku, kelurgaku pun juga tidak
tau. Aku terpaksa bercerita denganya karena kebetulan dialah perawat disana
yang akan merawatku. Aku memintanya untuk menyembunyikan hal ini kepada
keluargaku atau siapa pun karena aku tidak ingin mereka khawatir memikirkanku.
Semakin hari terasa semakin lemah, sudah 3 minggu aku
dirumah sakit namun masih tidak ada tanda-tanda pulih dari rasa sakit yang ku
derita ini. Dan selama itu aku juga tidak ada menjawab telpon dan membalas sms
dari teman-teman ku dan Adit kecuali kelurgaku.
Ketika terbaring lemas di atas kasur rumah sakit, Ayah ku
menelpon.
“Halo Pak.!”
“Hallo,Gimana kabarmu nak.??” “Baik-baik saja kan.!?”
“Iya Pak aku sehat-sehat aja koq” dengan lemas Aku
berbicara.
“kenapa suaramu lemas gitu?”
“Owh tadi Aku habis Lari-lari pak, Olahraga.” Alasan ku
untuk berbohong.
“Emh kalo’ gitu kamu istirahat saja dulu nak, jangan sampai
sakit.” Bapak ku berkata dengan penuh perasaan.
“Iya pak, Via ngerti kok, lagian Via udah dewasa jadi bisa
jaga diri baik”.
“Daah bapak, Aku mau istirahat dulu.”
Aku langsung mematikan telfonnya agar tidak terlontar lagi
untaian kata kebohongan yang terucap dari bibir ini. Aku sempat berfikir, “apa
salah orang tuaku sehingga aku tega membohonginya.”. “Apakah ini yang dikatakan
sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.!?” Hati ku merasa
menyesal-menyesal-dan menyesal. Aku berusaha menahan air mataku untuk tidak
meneteskanya. Namun apa daya, Hati ku ini sudah tak tahan untuk menahannya,
desakan hati membuat air mata ku mulai menetes setetes demi setetes. Aku
berusaha tetap tegar dan sabar, karena ini aku perbuat demi kebaikannya, agar
ia tidak memiliki rasa kehawatiran. Aku mulai mengusap airmataku dan berusaha
untuk berhenti menangis.
Beberapa hari kemudian Aku semakin rindu dengan Adit, namun
aku tidak ingin dia melihat keadaanku seperti ini. Aku tidak ingin dia
menatapku dengan penuh rasa iba. Kini orang tuaku serta kelurgaku telah tau
keadaanku, Dewik yang memberi tahu semuanya karena dia tidak tahan melihat ku
tersiksa seperti ini. Dan aku juga tidak bisa menolak karena tabungaku juga
telah habis untuk membayar biaya rumah sakit.
Sebulan lebih dirumah sakit akhirnya aku bisa pulang kerumah
namun harus tetap terus kembali cek up kerumah sakit. Dan sebulan lebih juga
aku tidak ada komunikasi dengan teman-temanku dan Adit. Aku ingin sekali
menghubungi mereka namun keadaanku masih belum pulih kembali seperti semula aku
masih terlihat orang yang tidak berdaya.
Malam begitu larut, entah mengapa aku sangat merindukan
sosok Adit. Aku tidak bisa menahan perasaanku. Aku merasa gelisah karena tidak
pernah menghubunginya. Dengan perasaan ragu aku mencoba untuk menghubunginya.
Ku pencet namanya dilayar kontak hpku, nada tunggu telah terdengar
“angkat…angkaat...!!” gumam hatiku.
“halo…!! kemana saja kau? Kenapa tidak pernah ada kabar dan
tidak pernah mengangkat telpon dan membalas smsku?” suara Adit diseberang sana.
Dengan deg-degan aku pun menjawab “maaf… Adit, aku tau aku
salah. Aku tidak mengangkat telpon dan membalasa smsmu, karena aku sangat
sibuk…!”.
Dengan nada marah Adit pun menjawab “sibuk apa memangnya
kamu? sampe tidak bisa mengangkat telpon dariku dan membalas smsku? Kamu pikir
aku disini tidak kuatir memikirkan keadaanmu?”
“Ternyata dia juga peduli akan keadaanku” gumamku dalam
hati.
“iya… Adit maaf, aku terlalu sibuk makanya tidak bisa
menghubungimu. Saking sibuknya akupun lupa waktu. Ku harap kamu tidak marah
denganku. Aku baik-baik saja kok…kamu tidak usah kuatir”.
“kalau begitu…kapan kita bisa ketemu? Ada sesuatu hal yang
ingin ku samapaikan kepadamu, ini penting…!!!”
“Aku belum tau pasti, nantilah aku kabari kapan waktu
nya..!!!”
“Ya sudah kalau begitu, aku tunggu. Ya udah…ini sudah larut
malam, kau istrahat saja. Jaga kesehatannya. Selamat malam…!!!”
“Selamat malam” aku menutup telponnya.
Seminggu kemudian aku bertemu dengan Adit di sebuah kafe,
lama tidak bertemu dengannya aku merasa kaku. Mungkin karena aku sangat
merindukannya dan aku berusaha untuk menyembunyikan hal itu darinya. Pertemuan
kali ini kita masih bicara dengan santai sampai pada akhirnya dia ingin
mengatakan sesuatu hal yang penting katanya.
“Via, ada hal penting yang ingin aku katakan sama kamu…tapi
aku berharap kamu tidak terkejut mendengarnya, udah lama aku ingin kasih tau
kamu tapi kamu sibuk sampe tidak bisa mengangkat telponku…”
“Ya…katakan aja, sebenarnya apa?”
“sebenarnya… ach…kenapa begitu sulit sekali rasanya aku
mengatakannya padamu…!!”
Sebenarnya ada apa??, katakan saja…!!!” Aku jawab dengan
perasaan tak sabar.
“Via, minggu depan aku berangkat ke Jakarta, aku dipindahkan
kuliah disana. Beberapa bulan kemaren aku telah mengurusi semuanya dan semuanya
sudah selesai jadi minggu depan aku bisa berangkat ke Jakarta.”
Sediiiiiih…aku sangat terkejut mendengarnya. Aku bingung
harus mengatakan apa padanya, entah kenapa aku ingin sekali melarang dia pergi
karena aku tidak ingin jauh dari dirinya, tapi siapa aku? aku hanya temannya.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“owch….begitu, kenapa begitu sulit bagimu untuk katakan hal
itu pada ku?”
“Via, aku takut kamu marah pada ku karena baru bisa
memberitahumu sekarang”
“tidak apa-apa kok dit, aku bisa ngerti, jika itu demi
kebaikanmu aku sangat mendukungmu” (dengan berat hati aku mengatakannya)
“aku berangkat hari sabtu, ku harap kamu bisa mengantarkan
aku kebandara”
“insyaallah yaa dit, aku nggak bisa janji”
Sejak saat itu, aku terus termenung memikirkannya. Aku
merasa sedih jika harus berpisah dengan Adit tapi aku juga tidak bisa mencegah
kepergiannya.
Seminggu kemudian telah berlalu, hari ini Adit berangkat ke
Jakarta. Aku ingin sekali mengantarnya ke BIL (Bandara Internasional Lombok )
tapi sekarang keadaanku. Hari ini aku masih terbaring di rumah sakit, tiga hari
yang lalu aku di bawa kerumah sakit lagi karena penyakitku yangg semakin parah
saja. Aku sediiih…aku tidak bisa bertemu dengannya untuk terkhir kalinya. Aku
terus menangis aku mencoba menghubunginya. Tapi hp nya tidak aktif.
Dalam hati aku hanya berdoa, semoga allah selalu
melindunginya. Dan maafkan aku yang tidak bisa mengantarkan mu.
Seminggu sudah dia di Jakarta, tapi kenapa tidak ada kabar
darinya. “Apakah dia sibuk? Atau apakah dia telah lupa pada ku?”, “Dimana
dia?”, “Sedang apa dia?”. Seperti itulah yang ada dalam fikiranku saat ini. Aku
sangat merindukannya.
Akhirnya hari ini aku putuskan untuk ke rumah Adit menemui
mamanya, mamanya tidak ikut dengan Adit karena pekerjaannya yang tidak bisa
ditinggalkan.
Sesampai dirumah Adit, aku merasakan sangat sepi apa mungkin
karena tidak ada Adit dirumah. Mamanya terlihat agak murung dan seperti habis
menangis, aku ingin menanyakannya tapi aku takut. Akhirnya aku Cuma menanyakan
bagaiman keadaan Adit.
“maaf tante, Adit ganti nomor ya? Soalnya beberapa kali saya
telpon kok tidak aktif ya…dan dia juga tidak pernah menghubungi saya”.
Mamanya makin terlihat sangat sedih, dan aku sangat bingung
sebenarnya apa yg terjadi.
“ maaf nak, seharusnya dari kemarin saya kasih tau nak Via.
Tapi saya tidak sanggup saya takut nak Via sedih apa lagi pas waktu saya telpon
ke rumahnya nak Via, yang angkat adiknya nak Via dan bilang kalau nak Via
sedang dirawat dirumah sakit, jd saya putuskan untuk tidak memberitahukan nak
Via waktu itu”.
“sebenarnya apa yg terjadi tante?”
Mamanya Adit malah menangis, aku semakin bingung dan takut.
Perasaan ku sangat tidak enak. Sebenarnya apa yg terjadi dengan Adit.
“tante, maaf sebenarnya apa yg sedang terjadi, Adit
baik-baik saja kan tante?”
Mamanya tetap diam dan terus menangis. “tante bilang aja,
saya tidak apa-apa kok. Apa Adit sakit?”
Dengan nada yg tertatih tante pun menjawab “ nak Via…jangan
sedih ya, maafin tante baru bisa mengatakan sekarang. Se be narnya….sebenarnya
Adit telah mengalami kecelakaan pas perjalanan mau ke Balikpapan hari sabtu
kemaren. Dan…”
“dan kenapa tante? Adit gak kenapa-kenapa kan tante? Adit
dirawat dirumah sakit mana? Ayo tante kita jengukin Adit …!!!”
“Tii..tiii…tiidak usah nak Adit, ka…kaa…kerana Adit, Adit
meninggal di tempat karena hantaman keras dikepalanya”. (Sambil mengusap-usap
airmata yang melintasi pipinya)
“tidak mungkin..! tidak mungkin, ini tidak benar kan tante?
Tante cuma sedang bercanda kan?” (aku berkata dengan rasa penuh tidak percaya).
Bagaikan disambar petir disiang hari, aku tidak sanggup
membayangkan perasaan ku saat itu. Aku sangat sedih dan sangat sangat sedih.
Aku terus menangis sambil memeluk mamanya Adit. Aku tidak percaya jika dia
telah meninggalkan aku lebih jauh dari yang aku bayangkan.
“Nak Via, tante tidak sedang becanda. Adit udah dimakamkan
pada hari minggu kemarin. Maafin tante tidak bisa memberitahumu. Tapi sebelum
mau berangkat ke Bandara, Adit sempat menitipkan sesuatu untuk kamu pada tante.
Sebentar tante ambilkan.!”
Masih dengan perasaan yang tidak percaya, kini aku telah
kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya dan sekarang terasa lebih
menyakitkan. Aku terus menagis dan menangis, menangisku lebih haru lagi ketika
aku lihat fotonya Adit di dinding. Tidak bisa aku bayangkan ini terjadi
padanya.
“Nak Via, ini titipan dari Adit” mamanya Adit menyodorkan
kotak warna ungu dan sepucuk surat padaku.
Dengan perlahan ku buka kotaknya dan berisi sebuah kalung
berliontin bintang, setelah itu aku buka sepucuk surat yang ditulis oleh Adit.
Dear Via,
Hai…! Bagaimana keadaanmu, ku harap setelah kepergianku ke
Jakarta kau baik-baik saja dan sangat merindukan aku. hehehe…
Via, sebenarnya waktu pertemuan kita dicafe waktu itu, aku
ingin mengatakan sesuatu hal yang lebih penting selain keberangkatanku ke
Jakarta, hanya saja aku waktu itu menjadi orang yang sangat payah sehingga tidak
berani mengungkapkan sesuatu hal terhadapmu. Tapi lewat surat ini aku ingin
mengatakan sesuatu hal tersebut yang sempat tertunda itu, aku ingin mengatakan
kalau sebenarnya “Aku Sangat Mencintaimu”. Sejak pertama bertemu dengan mu di
kampus sejak saaat itu pula aku menyukaimu, kau terlihat sangat berbeda dari
wanita lainnya yang pernah aku kenal. Aku tau sebenarnya pertama bertemu
dengamu kau sangat membenciku karena tingkahku yg sangat aneh dan terlalu
berisik menurutmu. Tapi sejujurnya aku suka melihat kebencianmu terhadapku
karena itu membuat aku semakin menyukaimu. Makanya aku sengaja menyuruh mamaku
untuk mendekatimu agar lebih tau kepribadianmu dan agar aku tidak salah pilih
pasangan hidup. Dan ternyata mamaku pun menyukaimu dan akhirnya dengan sengaja
selalu menceritakan tentang aku kepadamu agar kau mau dekat denganku.
Aku sangat senang ketika aku bisa jadi temanmu,
yaa….walaupun masih status sebagai temanmu tapi aku sangat senang. Bisa jalan
dan bercerita dengan mu itu membuatku udah cukup merasa bahagia apa lagi jika
aku bisa membuat mu tertawa aku sangat merasa bahagia.
Kau tau kenapa aku memberi mu kalung dengan liontin bintang?
Itu karena aku ingin aku selalu menjadi bintang dihatimu dan agar kau selalu
merasa dekat denganku disaat aku jauh darimu dan tidak pernah melupakan mu.
Aku benar-benar menyayangimu, aku harap kaupun mempunyai
rasa yang sama terhadapku. Sesampai aku di Jakarta aku harap kau sudah membaca
surat dariku dan aku akan menghubungimu untuk menanyakan apakah aku mau
menerimaku menjadi bintang hatimu seperti kau menerima kalung dariku.
Tunggu aku, jika kau mau menerimaku… setelah selesai kuliah
nanti aku kan melamarmu.
Jaga diri baik-baik yah…!!!
I will Always Love You.
I will Always Miss You.
I will Always Need You.
Adit.
Setelah aku membaca surat itu, seketika aku menjatuhkannya. Dengan cepat aku
memegang tangan mama adit. “Tante, bisa tante tunjukkan dimana tempat Adit
dimakamkan.?”
“Mari nak Via, tante anterin.!” Sambut mama Adit.
Sesampainya aku dipemakaman, Aku langsung berlari mendatangi
peristirahatan terakhir Adit. Disana aku tak kuasa menahan tangis. Pipiku
tersentuh dengan gundukan tanah yang gembur itu. Penyesalan-penyesalan dan
penyesalan terus tergambar dihati ku. Telingaku terbuka lebar berharap dia
membisikkan kata-kata yang dia tulis di surat tadi, tapi tak satu hurufpun
terdengar. Dengan spontan aku berteriak
“KENAPA KAMU TIDAK MENGATAKAN DARI DULU KALAU KAMU SUKA
DENGANKU.!!!!!” (air mata ku menetes tanpa henti).
“PADAHAL APA YANG KITA RASAKAN SAMA.!!!!”
“ANDAI SAJA KAMU MENGATAKAN INI DARI DULU, MUNGKIN SEMUA INI
TIDAK AKAN TERJADI...!!!”
“MUNGKIN KAU AKAN MELIHAT AKU MENGENAKAN LIONTIN BINTANG ITU
DI LEREH KU.!!!”
“DAN KAU MASI BISA TERSENYUM SAAT INI.!!!
Kemudian mama Adit menghampiriku dan berusaha menenangkan hatiku. “Sudah lah
nak, yang sabar aja, kamu harus bisa merelakannya.” “Adit juga tidak bisa
kembali lagi”.
“iya, tante benar juga, tapi adit akan selamanya dihati ini”
(sambil tersedu-sedu).
“Ayo nak, kita pulang”, ajak Tante.
“iya tan, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu hal dulu.”
“Adit, Sekarang kau telah menjadi bintang hatiku, dan saat ini aku telah
mengenakan kalung yang kau berikan padaku. Kalung ini akan Aku kenakan sampai
Ajal menjemputku. Dan kau tidak usah khawatir mengenai ibumu, Aku akan
menjaganya, melindunginya sekuat semampuku. Dan yang terakhir, Aku ingin
sekarang kau menungguku di Surga.”
“Istirahat yang tenang ya SAYANG.”
“Love, Miss, Need You too.!!”
***
(Selesai)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar